Selasa, 14 April 2015

[CERPEN] PONDOK HUTAN MENGERIKAN

Pagi hari aku bahagia sekali. Sudah lama keluargaku tidak pergi ke mall karena orang tua ku yang sangat sibuk. Hari ini juga hari minggu, penat rasanya sekolah setiap hari.

"Ayah, nanti aku dibelikan mainan ya, ya, ya?" pintaku. "Iya, minta mainan apa?" jawab Ayahku sambil menyetir. "Buanyak, mobil-mobilan, kartu, lego, motor-motoran, video game, tadi lego udah belum ya?..." sahutku tanpa henti. "Ah, Rio. Kamu mainannya kan udah banyak banget." sela Ibuku. Sepanjang perjalanan aku pun menikmati karena sangat jarang kita mengobrol seperti ini.

Sesampainya di mall, aku dan Ibu langsung masuk. Sementara Ayah, dia sepertinya lagi ada urusan. "Bu, ayo ke tempat mainan." ajakku. "Iya, tapi jangan lama-lama ya?". Aku langsung berlari ke tempat mainan. "Ah, nggak ada yang bagus. Ini kan mainan yang kemarin-kemarin." batinku.

Tiba-tiba, aku melihat boneka kelinci yang sangat bagus. "Wah, keren nih. Bu, aku minta ini ya?" pintaku. "Ih, tumben amat Rio, masa anak laki-laki minta boneka?" ejek Ibuku. "Biarin, yang penting kan bagus." jawabku ketus. "Ya sudah deh. Mbak, yang ini berapa?" tanya ibuku. "Oh itu, murah kok cuma...". Setelah itu kami pun pulang.

Sesampainya di rumah, aku main-main dengan boneka baruku tadi. Aha, kuberi nama kamu Robbie.

Hari ini Senin. Ayah sama Ibu pergi kerja. Oh iya, karena orang tuaku sibuk bekerja dan kami tidak punya supir pribadi, jadi aku ikut homeschooling. Di rumah cuma ada aku sama Si Mbok.

Sudah jam tujuh, Ayah dan Ibu kenapa gak pulang-pulang. Ah, pasti mereka pergi keluar kota. Benar kan, ada sms dari Ayah. "Rio, kami mau pergi ke luar kota. Jaga diri baik-baik. Salam dari kami, selamat tidur."

Saat aku mau tidur, aku mendengar suara seperti memanggilku. "Rio, ini aku Robbie.". Hah, Robbie? "Kamu bisa bicara Robbie?" aku takjub. "Iya Rio, selama ini aku selalu dia ketika ada manusia. Tapi aku tahu kamu bulan orang jahat. Jadi aku tidak takut." jelas Robbie. "Wah, keren." aku masih saja takjub. "Rio, kamu jangan bilang siapa-siapa ya?" pinta Robbie. "Oke sip, aku janji.". Saking ngantuknya aku langsung tertidur.

Pagi hari, aku langsung membangunkan Robbie, "Robbie, bangun Robbie.". "Ada apa sih?" jawabnya dengan nada mengantuk. "Main yuk?" ajakku. "Iya, tapi di kamar saja ya, aku takut Mbok tahu." jawab Robbie. "Kenapa? Mbok kan orang baik juga." elakku. "Iya, tapi aku ingin hanya kamu saja yang tahu." pintanya.

Setiap hari aku selalu bermain bersama Robbie. Dia sangat ceria sekali. Dia sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Aku jadi tidak pernah bermain bersama teman-temanku.

Suatu ketika, temanku mengajak aku untuk berkemah. "Aku nggak mau, kalau nggak ada pendampingnya. Lagipula orangtuaku lagi di luar kota." jelasku. "Nggak apa-apa kok. Kita kesana bareng kakakku. Teman-temannya juga banyak." rayu Reza. "Begini saja, aku izin dulu sama orangtuaku. Kalau boleh, aku akan ikut.". "Oke, dah.". "Dah." kututup gagang telepon.

Akhirnya, aku diizinkan sama orangtuaku tapi aku harus hati-hati. Lagipula kan ada Robbie. Selain bisa berbicara pasti dia juga punya kekuatan super.

Pada hari yang sudah ditentukan, kami pun berangkat menggunakan mobil ayahnya Reza. Sementara itu, yang menyetir yaitu kakaknya Reza. Kami menuju suatu area yang sepertinya bisa digunakan orang untuk berkemah. Area itu cukup luas dan cukup aman, karena tidak terlalu jauh dari jalan raya.

Kami membangun tenda bersama, bernyanyi bersama, dan bermain bersama. Wah, sungguh mengasyikan. Robbie juga sepertinya bahagia, walaupun dia tidak ikut bermain.

Pada malam hari, hawanya dingin sekali. "Ssstt, eh Robbie, aku kebelet pipis nih. Kamu temenin aku ya?" pintaku. "Oke, ayo.". Saat aku menuju ke toilet, aku mendengar suara anak tapi samar-samar. Ih, seram sekali. Setelah itu, aku langsung lari. Tiba-tiba aku tersandung sesuatu dan semuanya menjadi gelap.

Saat aku bangun, aku terkejut dimana aku? Sepertinya aku berada di sebuah pondok tengah hutan. Aku kembali mendengar suara anak tetapi tetap samar-samar. Aku ketakutan. "Robbie, dimana kamu?". "Aku disini, Rio." jawab Robbie yang sedari tadi berada di sampingku. "Robbie kita ada dimana?" tanyaku. "Kita ada di pondok...". Tiba-tiba ekspresi Robbie berubah. "...dan kamu akan menjadi korban selanjutnya." Robbie langsung mengikat tangan dan kakiku. Dia juga menyumpal mulutku dengan sapu tangan. Sekarang aku tahu, mungkin suara yang menyeramkan itu dari teman-temanku dan Robbie adalah robot yang dirancang oleh komplotan penculik untuk melancarkan aksinya.


Tapi apa daya, aku tidak bisa melawan Robbie yang tenaganya sungguh kuat. Aku dibawa Robbie ke tengah hutan. Aku dibiarkan disana, mungkin Robbie sedang mencari mangsa lagi.
Aku ingin berteriak, namun tak bisa. "Aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku ingin pulang." batinku seraya meneteskan air mata yang deras. Tetapi usahaku sia-sia, takkan ada orang yang mendengar. Aku hampir putus asa, tak ada harapan, mungkin ini adalah akhir.
Tiba-tiba, "Kejutan, selamat ulang tahun kami ucapkan..." semua orang yang kukenal bernyanyi mengelilingiku yang bernyanyi. Aku sangat terkejut.
Banyak pertanyaan yang ada dipikiranku. Ah, aku sudah tahu semuanya. Robbie, orangtua keluar kota, ajakan Reza berkemah, semua itu pasti direncanakan Ayah. Malam ini adalah malam yang sangat spesial. Di tengah gelapnya malam, kami merayakan ulang tahunku dengan suka cita. Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu, terima kasih semuanya, aku benci kalian. Hahahaha. Dor dor dor. Kalian pikir kalian saja yang punya kejutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hatsune Miku